\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n
\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n
\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berdasarkan informasi dari petani, cara menyimpan cengkeh yang baik ditaruh dalam kantong plasting, baru kemudian dimasukkan karung. Dengan perlakukan itu, memberikan hawa hangat pada cengkeh dan kualitas cengkeh terjaga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Merasa punya strategi tersendiri dalam penyimpanan cengkehnya agar tetap berkualitas. Penyimpanan cengkeh biasanya dimasukkan dalam karung dan di beri alas kayu, ditaruh di tempat yang teduh, terlebih tidak boleh kena hujan atau terkena air. Biasanya disimpan dalam dalam rumah, atau gudang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasarkan informasi dari petani, cara menyimpan cengkeh yang baik ditaruh dalam kantong plasting, baru kemudian dimasukkan karung. Dengan perlakukan itu, memberikan hawa hangat pada cengkeh dan kualitas cengkeh terjaga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kebiasaan unik para petani cengkeh di Maluku salah satunya, petani tidak akan menjual seluruh hasil panennya, ada sebagian yang disimpan, kemudian dijual secara perlahan sesuai kebutuhan dikemudian hari.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merasa punya strategi tersendiri dalam penyimpanan cengkehnya agar tetap berkualitas. Penyimpanan cengkeh biasanya dimasukkan dalam karung dan di beri alas kayu, ditaruh di tempat yang teduh, terlebih tidak boleh kena hujan atau terkena air. Biasanya disimpan dalam dalam rumah, atau gudang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasarkan informasi dari petani, cara menyimpan cengkeh yang baik ditaruh dalam kantong plasting, baru kemudian dimasukkan karung. Dengan perlakukan itu, memberikan hawa hangat pada cengkeh dan kualitas cengkeh terjaga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga jual cengkeh tahun ini, dirasakan berdampak terhadap perekonomian petani cengkeh, namun pengaruhnya tidak signifikan. Mereka hanya terancam tidak memiliki tabungan yang biasanya untuk keperluan mendadak, membangun rumah, dan keperluan yang lain yang mengeluarkan sumber dana besar.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebiasaan unik para petani cengkeh di Maluku salah satunya, petani tidak akan menjual seluruh hasil panennya, ada sebagian yang disimpan, kemudian dijual secara perlahan sesuai kebutuhan dikemudian hari.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merasa punya strategi tersendiri dalam penyimpanan cengkehnya agar tetap berkualitas. Penyimpanan cengkeh biasanya dimasukkan dalam karung dan di beri alas kayu, ditaruh di tempat yang teduh, terlebih tidak boleh kena hujan atau terkena air. Biasanya disimpan dalam dalam rumah, atau gudang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasarkan informasi dari petani, cara menyimpan cengkeh yang baik ditaruh dalam kantong plasting, baru kemudian dimasukkan karung. Dengan perlakukan itu, memberikan hawa hangat pada cengkeh dan kualitas cengkeh terjaga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masa pandemi ini, mengakibatkan harga cengkeh lumayan jatuh. Rata-rata petani sudah memprediksi akan berpengaruh terhadap harga jual buah cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga jual cengkeh tahun ini, dirasakan berdampak terhadap perekonomian petani cengkeh, namun pengaruhnya tidak signifikan. Mereka hanya terancam tidak memiliki tabungan yang biasanya untuk keperluan mendadak, membangun rumah, dan keperluan yang lain yang mengeluarkan sumber dana besar.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebiasaan unik para petani cengkeh di Maluku salah satunya, petani tidak akan menjual seluruh hasil panennya, ada sebagian yang disimpan, kemudian dijual secara perlahan sesuai kebutuhan dikemudian hari.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merasa punya strategi tersendiri dalam penyimpanan cengkehnya agar tetap berkualitas. Penyimpanan cengkeh biasanya dimasukkan dalam karung dan di beri alas kayu, ditaruh di tempat yang teduh, terlebih tidak boleh kena hujan atau terkena air. Biasanya disimpan dalam dalam rumah, atau gudang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasarkan informasi dari petani, cara menyimpan cengkeh yang baik ditaruh dalam kantong plasting, baru kemudian dimasukkan karung. Dengan perlakukan itu, memberikan hawa hangat pada cengkeh dan kualitas cengkeh terjaga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat mengatasi masalah cengkeh saat pandemi dengan bersabar. Berharap di tahun depan pandemi selesai dan panen berikutnya harganya stabil. Karena faktor penyebab merosotnya harga cengkeh sudah diluar kemampuannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masa pandemi ini, mengakibatkan harga cengkeh lumayan jatuh. Rata-rata petani sudah memprediksi akan berpengaruh terhadap harga jual buah cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga jual cengkeh tahun ini, dirasakan berdampak terhadap perekonomian petani cengkeh, namun pengaruhnya tidak signifikan. Mereka hanya terancam tidak memiliki tabungan yang biasanya untuk keperluan mendadak, membangun rumah, dan keperluan yang lain yang mengeluarkan sumber dana besar.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebiasaan unik para petani cengkeh di Maluku salah satunya, petani tidak akan menjual seluruh hasil panennya, ada sebagian yang disimpan, kemudian dijual secara perlahan sesuai kebutuhan dikemudian hari.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merasa punya strategi tersendiri dalam penyimpanan cengkehnya agar tetap berkualitas. Penyimpanan cengkeh biasanya dimasukkan dalam karung dan di beri alas kayu, ditaruh di tempat yang teduh, terlebih tidak boleh kena hujan atau terkena air. Biasanya disimpan dalam dalam rumah, atau gudang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasarkan informasi dari petani, cara menyimpan cengkeh yang baik ditaruh dalam kantong plasting, baru kemudian dimasukkan karung. Dengan perlakukan itu, memberikan hawa hangat pada cengkeh dan kualitas cengkeh terjaga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Maluku menjadi daerah sentra cengkeh<\/a>. Di masa pandemi seperti ini, bagaimana kondisi petani cengkeh di Maluku?<\/p>\r\n

Kondisi petani cengkeh di tahun ini (2020), sama kondisi petani tembakau. Harga yang didapat saat panen tidak sebagus seperti yang diharapkan. Bukan masalah kualitas dan kuantitas cengkehnya yang bermasalah, akan tetapi mungkin kondisi pandemi dan kelesuan produk olahan tembakau dan cengkeh di pasaran, hingga harga cengkeh rata-rata kurang dari seratus ribu di tahun ini. Tapi ternyata kondisi ini tidak mematahkan semangat petani cengkeh, mereka punya strategi tersendiri dan biasa mereka lakukan ketika ada masalah pada tanaman cengkehnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat mengatasi masalah cengkeh saat pandemi dengan bersabar. Berharap di tahun depan pandemi selesai dan panen berikutnya harganya stabil. Karena faktor penyebab merosotnya harga cengkeh sudah diluar kemampuannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masa pandemi ini, mengakibatkan harga cengkeh lumayan jatuh. Rata-rata petani sudah memprediksi akan berpengaruh terhadap harga jual buah cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga jual cengkeh tahun ini, dirasakan berdampak terhadap perekonomian petani cengkeh, namun pengaruhnya tidak signifikan. Mereka hanya terancam tidak memiliki tabungan yang biasanya untuk keperluan mendadak, membangun rumah, dan keperluan yang lain yang mengeluarkan sumber dana besar.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebiasaan unik para petani cengkeh di Maluku salah satunya, petani tidak akan menjual seluruh hasil panennya, ada sebagian yang disimpan, kemudian dijual secara perlahan sesuai kebutuhan dikemudian hari.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merasa punya strategi tersendiri dalam penyimpanan cengkehnya agar tetap berkualitas. Penyimpanan cengkeh biasanya dimasukkan dalam karung dan di beri alas kayu, ditaruh di tempat yang teduh, terlebih tidak boleh kena hujan atau terkena air. Biasanya disimpan dalam dalam rumah, atau gudang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berdasarkan informasi dari petani, cara menyimpan cengkeh yang baik ditaruh dalam kantong plasting, baru kemudian dimasukkan karung. Dengan perlakukan itu, memberikan hawa hangat pada cengkeh dan kualitas cengkeh terjaga.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain menanam cengkeh, rata-rata\u00a0 petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pekerjaan selain\u00a0 petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh<\/a> lambat laun akan mati.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u00a0,\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kondisi-petani-cengkeh-di-maluku-saat-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-20 18:58:51","post_modified_gmt":"2021-05-20 11:58:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7082","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6999,"post_author":"878","post_date":"2020-08-07 10:04:25","post_date_gmt":"2020-08-07 03:04:25","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengontak Bli Putu Ardana untuk urusan jual-beli kopi. Bli Putu, begitu saya biasa menyapanya, adalah senior saya di kampus, senior jauh. Beliau kini tinggal di Desa Munduk, Bali, tanah kelahirannya yang sejuk dan asri.<\/p>\n\n\n\n

Bli Putu sempat menjabat Kepala Desa Adat Munduk, jabatan itu membikin ia disapa Bendesa. Setelah tak lagi menjabat sebagai Bendesa, Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu tokoh yang mengurus adat Catur Desa, adat untuk empat desa dengan desa Munduk menjadi salah satu bagiannya.<\/p>\n\n\n\n

Itu semua sebatas profesi-profesi administratif saja. Profesi utamanya: petani. Ragam rupa komoditas pertanian dikelola oleh Bli Putu, dengan dua komoditas utama andalannya adalah cengkeh dan kopi. <\/p>\n\n\n\n

Untuk perkara kopi, Bli Putu memiliki sebuah merek kopi yang cukup istimewa dengan rasa yang cukup mewah. Kopi itu ia beri nama 'Blue Tamblingan'. Kopi ini jenis kopi arabika, yang tumbuh di satu hamparan sempit tak jauh dari Danau Tamblingan. <\/p>\n\n\n\n

Yang membikin kopi ini jadi istimewa citarasanya, Blue Tamblingan ditanam di atas ketinggian 1000 mdpl, bersama tanaman bunga pecah tujuh dan beberapa jenis bunga lain, pohon jeruk, vanili, dan beberapa jenis buah-buahan lain. Seluruh tanaman yang ditanam bersama pohon kopi arabika Blue Tamblingan ini, mempengaruhi citarasa kopi menjadi mewah.<\/p>\n\n\n\n

Untuk kopi inilah mula-mula saya mengontak Bli Putu malam tadi. Saya hendak mencicip kopi ini, lagi. Karena panen kopi belum lama berlangsung, dan stok kopi Blue Tamblingan yang terbatas itu kembali tersedia. Saya mesti segera memesan. Karena kalau tidak, khawatir bisa kehabisan.<\/p>\n\n\n\n

Usai memesan kopi, obrolan via chat whatsapp berlanjut. Saya bertanya perihal panen cengkeh di Desa Munduk, apakah sudah berlangsung? Bli Putu bilang panen cengkeh sedang berlangsung saat ini, dan masih akan terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan.<\/p>\n\n\n\n

Desa Munduk tempat berkesan bagi saya. Di sana mula-mula saya belajar perihal cengkeh, perihal pertanian cengkeh dan seluk-beluknya mulai dari hulu hingga hilir. Di Munduk, dari rumah Bli Putu, jadi titik mula semua itu, hingga akhirnya saya serius belajar perihal cengkeh di beberapa tempat lain di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Selain Bli Putu, ada Bli Komang Armada, dan beberapa nama lain tempat saya kali pertama belajar perihal cengkeh. Tapi, dua nama pertama yang saya sebut itulah pintu masuk awal saya belajar cengkeh. Dari keduanya saya tahu hal-hal paling mendasar hingga pengetahuan-pengetahuan tingkat lanjut dari dunia pertanian dan perdagangan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Usai mengabarkan kondisi panen tahun ini, obrolan saya dengan Bli Putu berlanjut. Bli Putu memberitahu kepada saya bahwa hasil panen tahun ini cukup baik. Bunga-bunga cengkeh berkembang dengan baik di tangkai-tangkai pohon. Semerbak aroma cengkeh menguar hingga penjuru desa, membikin desa beraroma segar khas cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, bagusnya hasil panen cengkeh tahun ini tidak dibarengi dengan harga yang juga bagus. Tahun ini, menurut Bli Putu, di Munduk, harga cengkeh hanya berkisar di angka Rp50 ribu saja. 50an bawah, begitu menurut istilah Bli Putu. Maksudnya, kisaran harga Rp55 ribu ke bawah. <\/p>\n\n\n\n

Ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang sesungguhnya juga sudah rendah. Tahun lalu, harga cengkeh di Munduk tidak sampai menginjak angka Rp70 ribu. Ia berada di kisaran harga Rp60 ribu hingga Rp65 ribu. 60an bawah.<\/p>\n\n\n\n

Buruknya harga cengkeh ini yang dimulai pada musim panen tahun lalu bermula dari pengumuman kenaikan cukai rokok dengan angka kenaikan lebih dari 20 persen. Ini membikin dunia pertembakauan limbung. Mulai dari pertanian tembakau dan cengkeh, produksi rokok, hingga penjualan rokok ke pasaran.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh menjadi salah satu sektor yang terpukul dengan telak akibat kenaikan cukai ini. Karena sejauh ini, hasil cengkeh nasional lebih dari 90 persen diserap industri rokok nasional. Cukai naik, menyebabkan harga rokok naik, ini berakibat pada penjualan rokok menurun di pasaran. Pada akhirnya, pabrikan memilih menurunkan produksi, membatasi pembelian bahan baku, dan harga cengkeh turun drastis.<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun lalu, harga cengkeh masih di angka Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Angka normal nasional selama beberapa tahun belakangan, di luar dua tahun terakhir ini, memang berkisar pada angka Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Dua tahun ini, perubahan signifikan terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Menurunnya harga cengkeh tahun ini selain karena kenaikan cukai, saya kira juga ada pengaruh dari pandemi korona yang terjadi di muka bumi hingga menyebabkan krisis ekonomi di banyak tempat di muka bumi, termasuk di Indonesia yang terancam resesi.<\/p>\n\n\n\n

Sesungguhnya, pertanian cengkeh cukup membantu membuka lapangan pekerjaan baru bagi banyak orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi ini. Di Bali, mereka yang kehilangan pekerjaan karena lesunya dunia pariwisata semasa pandemi, balik ke kampung dan bekerja menjadi buruh pemetik cengkeh di sentra-sentra perkebunan cengkeh di sana. <\/p>\n\n\n\n

Pertanian cengkeh, juga pertanian tembakau, dan pertanian-pertanian lain yang tata kelolanya sepenuhnya dipegang rakyat, semestinya jadi kekuatan untuk menghambat laju krisis ekonomi yang mengancam negeri ini. Sayangnya, untuk kasus cengkeh dan tembakau, negara lewat tangan menteri keuangannya malah hendak melumpuhkan keduanya lewat skema cukai yang maha tinggi itu. Saya kira, ada yang salah dari pengelolaan sektor pertanian di negeri ini.<\/p>\n","post_title":"Tahun Ini, Panen Cengkeh Bagus, Harga Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tahun-ini-panen-cengkeh-bagus-harga-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-08-07 10:04:27","post_modified_gmt":"2020-08-07 03:04:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6949,"post_author":"878","post_date":"2020-07-23 12:51:43","post_date_gmt":"2020-07-23 05:51:43","post_content":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_title":"Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pertanian-cengkeh-di-tengah-pandemi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 15:28:37","post_modified_gmt":"2024-01-23 08:28:37","post_content_filtered":"\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n

Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n

Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n

Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen.
<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya.
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n

Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi.
<\/p>\n\n\n\n

Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n

Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\".
<\/p>\n\n\n\n

Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini.
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain.
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan.
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n

Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir.
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n

Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n

#save_kretek<\/a>
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6563,"post_author":"912","post_date":"2020-03-06 09:33:54","post_date_gmt":"2020-03-06 02:33:54","post_content":"\n

\"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n

Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n

Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n

Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n

Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n

Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n

Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n

Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n

Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n

Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n

Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n

Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n

Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n

Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n

Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n

Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n

Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n

Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n

Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n

Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n

Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n

Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n

SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n

a. Pembibitan<\/h3>\r\n

Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n

Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n

b. Perawatan<\/h3>\r\n

Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n

Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n

c. Panen<\/h3>\r\n

Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n

d. Patah<\/h3>\r\n

Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n

e. Penjemuran<\/h3>\r\n

Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n

Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n

TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n

Sebelum Panen<\/h3>\r\n

1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n

2. Pencegahan hama<\/p>\r\n

Selama Panen<\/h3>\r\n

1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n

2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n

3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan
biaya pekerja<\/p>\r\n

4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n

5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n

6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n

7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n

Sesudah Panen<\/h3>\r\n

1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n

2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan
cengkeh<\/p>\r\n

3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n

Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n

Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n

SISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n

1. Sistem Upah<\/h3>\r\n

Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

2. Sistem Liter<\/h3>\r\n

Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n

3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n

Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n

KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n

Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n

Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n

Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n

Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n

Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};