Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n
Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n
Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n
Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n
Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n
Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n
Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n
Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n
Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n
Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n
Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n
Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n
Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n
Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n
Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n
Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\n
Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n
Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \"Kasih saya alamat-alamat organisasi antikretek itu. Saya akan datangi mereka satu-satu. Dulu negara aja kami lawan. Apalagi ini cuma LSM. Kecil itu,\" ujar lelaki itu tak bisa sembunyikan kegeramannya.<\/p>\n\n\n\n Kami menenangkannya, sambil mengingatkan agar tetap bekerja berdasarkan hal-hal yang konstruktif.<\/p>\n\n\n\n Lelaki tua itu pengurus dari serikat petani Cengkeh di Sulawesi Utara. Dulu ia pernah terlibat mengangkat senjata dalam pemberontakan Permesta pimpinan Letkol Ventje Sumual.<\/p>\n\n\n\n Ia marah kepada para aktivis anti kretek yang mengampanyekan anti kretek dan pelaksanaan agenda-agenda internasional seperti FCTC.<\/p>\n\n\n\n Si bapak sadar betul, kampanye anti kretek, pada gilirannya akan mematikan pertanian Cengkeh. Lebih 90% Cengkeh dari seluruh Indonesia, diserap industri kretek.<\/p>\n\n\n\n Saya terkesan dengan kata-kata yang ia gunakan: \"dulu negara saja kami lawan...\" Ia masih menyimpan memori kolektif tentang pemberontakan Permesta. Seperti gerakan PRRI di Sumatera, kendati kemudian dipadamkan, sebagai memori, pemberontakan-pemberontakan itu masih hidup. Bahkan buat bapak ini, masih menjadi rujukan.<\/p>\n\n\n\n Pertanyaannya: Bagaimanakah membangun dan memelihara ideologi perlawanan?<\/p>\n\n\n\n Buku Mohamad Sobary, Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung, mungkin bisa memberi jawaban. Sobary membuat catatan etnografis tentang bagaimana para petani Tembakau membangun gerakan. Yang pasti sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok anti Kretek pendukung FCTC.<\/p>\n\n\n\n Dimulai dengan kemungkinan adanya kaitan historis antara gerakan petani dan gerakan Laskar Bambu Runcing, yang legendaris memerangi kolonial di wilayah Karisidenan Kedu dulu. Sampai cerita-cerita dan mitos-mitos yang kemudian membangun ideologi perlawanan, membentuk organisasi, mengkonsolidasikan kekuatan, melakukan upacara-upacara bernuansa perlawanan, dan berdaulat penuh membiayai sendiri ongkos-ongkos perlawanan.<\/p>\n\n\n\n Sobary melihat semua tahapan tersebut begitu puitik. Karenanya perlawanan yang dilakukan para petani tersebut menjadi lebih esensial, katimbang upaya-upaya menggoalkan sebuah traktat atau konvensi yang lebih merupakan agenda orang lain.<\/p>\n\n\n\n Hal-hal itulah, sejarah pengorganisasian perlawanan itulah, yang menjadi penghubung mengapa serikat tani Tembakau Temanggung saat ini tetap berada dalam posisi vis a vis kebijakan yang akan merugikan mereka.<\/p>\n\n\n\n Saya menduga kuat, memori perlawanan itu pula yang ada di benak dan hati bapak eks Permesta di atas.<\/p>\n\n\n\n Selain semua hal tersebut di atas, perlawanan para petani Tembakau dan Cengkeh terhadap agenda-agenda FCTC, bagi para petani itu sendiri adalah soal Hidup dan Mati.<\/p>\n\n\n\n Para petani yang menanam semua bibit di atas tanah, mengurus dan merawatnya, melihat bibit-bibit itu tumbuh besar sampai dipanen, barang tentu, melahirkan sebuah relasi psikologis yang kuat. Ekspresi dari relasi itulah yang melahirkan ritual-ritual bersukur dan berterima kasih para petani.<\/p>\n\n\n\n Semua unsur fundamental itulah yang sedang berada dalam ancaman untuk diberangus oleh FCTC. Petani Tembakau dan Cengkeh mana yang akan tinggal diam menghadapi rencana jahat tersebut?<\/p>\n\n\n\n Sementara mereka yang anti Kretek itu, instansi-instansi internasional itu, punya sejarah perlawanan apa? Di bagian tanah mana tetes-tetes keringat dan air mata mereka jatuh?<\/p>\n\n\n\n Bobot kualitas dan ideologis seperti apa dari sebuah upaya yang disponsori dana internasional, dibanding sikap gigih para petani yang membiayai sendiri semua upaya perlawanan mereka?<\/p>\n\n\n\n Gerakan sosial untuk perubahan sosial masa kini harus belajar dari gerakan perlawanan para petani tersebut. Bukan rahasia banyak gerakan sosial Indonesia mendapat dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Itu sebab gerakan sosial di sini, belum melahirkan perubahan signifikan dan mendasar. Karena semua agendanya sering berada di wilayah oportunis, tarik menarik kepentingan, dan tawar menawar \"stick and carrot.\"<\/p>\n\n\n\n Yang terjadi kemudian adalah fragmentasi aktor-aktor perubahan, menjadi ambyar. Lemah tak bergigi tak bertenaga. Situasi seperti itulah yang diinginkan para freemarketeers. Pasarlah yang kemudian akan berkuasa, di saat para aktor perubahan loyo kehilangan arah.<\/p>\n\n\n\n Virus Corona secara medis bisa dicegah dan dibuat tak meluas, dengan cara yang nisbi bisa ditangani. Sementara virus FCTC akan menghentikan kehidupan jutaan manusia dalam jangka waktu yang lama, bergenerasi.<\/p>\n\n\n\n Ranu Pane, 04\/03\/20<\/p>\n","post_title":"FCTC Di Pusaran Corona","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fctc-di-pusaran-corona","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-06 09:33:57","post_modified_gmt":"2020-03-06 02:33:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6563","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6437,"post_author":"1","post_date":"2020-02-05 09:39:39","post_date_gmt":"2020-02-05 02:39:39","post_content":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Cengkeh: Keunggulan Kompetitif Bangsa Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"cengkeh-keunggulan-kompetitif-bangsa-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 11:59:31","post_modified_gmt":"2024-01-23 04:59:31","post_content_filtered":"\r\n Sejak penemuan kegunaan baru cengkeh sebagai bahan baku rokok kretek, komoditas cengkeh kembali bersinar. Beberapa pabrik rokok kretek berdiri pada pertengahan dekade 50-an menyebabkan permintaan cengkeh meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, pertanian cengkeh tak hanya diusahakan di Kepulauan Maluku tetapi juga di Sulawesi, Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua dan beberapa tempat lain di Indonesia.<\/p>\r\n Pada 1970 luas lahan cengkeh telah mencapai 82.387 hektar, dua dekade kemudian luas lahan cengkeh mencapai 724.986 pada 1990. Swasembada cengkeh dinyatakan tercapai pada 1991. Namun sayang, pengaturan tataniaga cengkeh oleh pemerintah dengan pembentukan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) justru membuat komoditas ini terpuruk. Harga jatuh.<\/p>\r\n Petani kecewa, sebagian lahan ditumpas dan sebagian lagi dibiarkan tak terpanen. Ketika BPPC dibubarkan, pada akhir Juni 1998, lahan cengkeh yang tersisa tercatat hanya 428.000 hektar. Sekarang lahan cengkeh mencapai setengah juta hektar lahan, dan 96 persen dari total produksi nasional mengalir untuk menyokong kebutuhan industri kretek nasional di Indonesia.<\/p>\r\n Cengkeh yang telah meletup akan segera jatuh. Dari polong inilah tunas-tunas baru cengkeh tumbuh. Perawatan ekstra dilakukan di masa-masa awal. Bibit cengkeh diletakkan di bedeng supaya mempermudah perawatan.<\/p>\r\n Asupan air diberikan secara teratur, dan kala musim kemarau datang bibit cengkeh dikelilingi daun nyiur supaya dapat terhindar dari sengatan sinar matahari secara berlebih. Jika masa ini telah lewat perawatannya lebih sederhana. Pohon cengkeh cukup ditanam dengan jarak tertentu, rumput liar dibersihkan secara teratur, dan daun-daun yang berguguran akan menjadi pupuk alami yang menyuburkan.<\/p>\r\n Tanaman cengkeh di Indonesia mempunyai karakteristik unik dengan penyesuaian tumbuh-kembangnya dari faktor iklim, jenis tanah, dan yang terbaik terkena angin laut. Itulah yang menyebabkan karakteristik tanaman ini meskipun jenisnya sama akan memberikan hasil yang berbeda di setiap tempat. Cengkeh mulai belajar berbuah di usia lima sampai tujuh tahun. Ketika usia telah menginjak sepuluh tahun cengkeh dengan rutin memberikan peruntungan.<\/p>\r\n Di Sulawesi pohon cengkeh tak bisa tumbuh besar, dan jika usianya telah berumur kuantitas bunga menurun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Di tanah asalnya, Kepulauan Maluku, pohon cengkeh bisa berbunga baik hingga puluhan tahun. Tercatat pohon cengkeh tertua, \u2018Cengkeh Apo\u2019, berusia sekitar 450 tahun dan berdiameter Para petani melakukan proses memetik cengkeh (bagugur) dengan memutus gagang tepat di bagian terakhir daun.<\/p>\r\n Pemetik cengkeh maupun keluarga petani akan berkumpul dalam satu lingkaran untuk (bapata) patah cengkeh<\/a>. Segera setelah proses panen dilakukan, maka sore harinya berlangsung patah cengkeh. Jika terlalu lama ditimbun membuat cengkeh dan gagang sulit dipisahkan.<\/p>\r\n Kuncup cengkeh dijemur (bajemur) di bawah terik matahari, sampai warna merah kecokelatan-cokelatan. Proses ini memerlukan waktu sekitar empat hari. Bila panen datang saat musim hujan, cengkeh perlu perawatan ekstra supaya tak rusak diserang jamur.<\/p>\r\n Para petani menyiasatinya dengan menutupi cengkeh yang sedang dijemur dengan plastik atau mengeringkannya dengan cara pengasapan. Per hektar lahan ditanami sekitar 140 - 150 pohon cengkeh.<\/p>\r\n 1. Perawatan tanaman<\/p>\r\n 2. Pencegahan hama<\/p>\r\n 1. Tenaga petik, memanjat pohon untuk memetik bunga cengkeh<\/p>\r\n 2. Juru masak, penyedia makanan selama musim panen<\/p>\r\n 3. Juru taksir, menghitung jumlah panen cengkeh dan kebutuhan 4. Mandor, mengawasi proses panen<\/p>\r\n 5. Tukang pungut, memungut ceceran bunga cengkeh yang jatuh<\/p>\r\n 6. Juru bayar, bertugas membayar tenaga kerja<\/p>\r\n 7. Tukang angkat, mengangkat hasil panen ke penampungan<\/p>\r\n 1. Tukang yang bertugas memisahkan cengkeh dengan gagang<\/p>\r\n 2. Tukang jemur, bertugas menjemur atau proses pengeringan 3. Tenaga untuk menjual hasil cengkeh<\/p>\r\n Ketika berlangsung musim panen cengkeh. Para petani kewalahan untuk melakukan proses panen. Sebab, untuk melakukan panen diperlukan perhitungan waktu yang tepat.<\/p>\r\n Cengkeh diupayakan terpetik sebelum kuncup bunga meletup dan berubah menjadi polong (pembibi- tan), sehingga membutuhkan tenaga pemetik dari luar daerah. Dalam sehari setiap pemetik bisa memanen 4-5 bakul cengkeh basah (4-5 kilogram cengkeh kering).<\/p>\r\n Setiap harinya pekerja petik cengkeh mendapatkan upah Rp 100 ribu - Rp 150 ribu dengan makan tiga kali sehari, kopi\/teh, rokok satu bungkus dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Dengan sistem ini setiap pekerja petik dibayar dengan perhitungan hasil panen. Per liter cengkeh ditukar pemelik lahan dengan Rp 5.000. Kebutuhan makan, kopi\/teh, rokok, dan penginapan ditanggung pemilik lahan.<\/p>\r\n Sistem ini digunakan apabila pemilik lahan tidak mempunyai dana untuk proses panen atau terletak jauh dari rumah. Proses panen diserahkan ke tetangga atau kerabat, dengan hasil panen nantinya dibagi sama rata antara pemilik lahan dan pemetik.<\/p>\r\n Pertanian cengkeh memang tak secara langsung masuk dalam kalkulasi perhitungan pendapatan negara. Namun komoditas ini secara riil menjadi penggerak roda perekomian masyarakat.<\/p>\r\n Sejak penghapu- san Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) harga cengkeh meningkat setiap tahunnya. Saat ini harga per kilogram cengkeh<\/a> dibandrol hingga Rp 140.000 per kilogram.<\/p>\r\n Petani cengkeh menyiasati rentan tanam hingga berbunga sebagai tabungan pendidikan. Saat seorang anak lahir mereka menanam pohon cengkeh. Dalam waktu lima hingga tujuh tahun, saat anak-anak mereka mulai bersekolah, pohon cengkeh telah menghasilkan.<\/p>\r\n Dari hasil pertanian cengkeh petani membayar biaya pendidikan anak-anak. Komoditas ini sekarang menyokong sekitar lima juta petani dan tenaga kerja pertanian cengkeh di Indonesia.<\/p>\r\n Sumber: Kretek Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia (Buku Kretek)<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6437","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n
SELUK BELUK PERTANIAN CENGKEH<\/h2>\r\n
a. Pembibitan<\/h3>\r\n
b. Perawatan<\/h3>\r\n
mencapai 300 sentimeter.<\/p>\r\nc. Panen<\/h3>\r\n
d. Patah<\/h3>\r\n
e. Penjemuran<\/h3>\r\n
TENAGA KERJA DALAM ALUR PRODUKSI CENGKEH<\/h2>\r\n
Sebelum Panen<\/h3>\r\n
Selama Panen<\/h3>\r\n
biaya pekerja<\/p>\r\nSesudah Panen<\/h3>\r\n
cengkeh<\/p>\r\nSISTEM PENGUPAHAN PEMETIK<\/h2>\r\n
1. Sistem Upah<\/h3>\r\n
2. Sistem Liter<\/h3>\r\n
3. Sistem Bagi Hasil (Pica Tinga)<\/h3>\r\n
KEARIFAN PETANI CENGKEH<\/h2>\r\n