\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n
\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7079,"post_author":"883","post_date":"2020-09-15 12:45:24","post_date_gmt":"2020-09-15 05:45:24","post_content":"\r\n

Sebagai konsumen rokok<\/a>, pada hakikatnya merupakan penyumbang utama pajak rokok yang dipungut atau dibayar oleh masyarakat yang membeli atau mengkonsumsi hasil tembakau. Adapun pajak rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh Pemerintah Pusat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Alokasi dari pajak rokok ini kemudian oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan dibagikan kepada Pemerintah Daerah. Oleh Pemerintah Daerah inilah kemudian pajak rokok dikelola, salah satunya adalah untuk pelayanan kesehatan masyarakat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perlu diketahui bahwa konsumen rokok<\/a> dalam membeli satu batang rokok, selain juga dikenakan cukai dan PPN, juga dikenakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) sebesar sepuluh persen. Sistem pengelolaan pajak rokok yang dikelola Pemerintah Daerah diatur dalam pasal 26 \u2013 pasal 31 Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Nomor 28 tahun 2009.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika melihat tata kelola pajak rokok sesuai dengan Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tersebut, maka pajak rokok dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang. Secara eksplisit belum jelas memang peruntukan pelayanan kesehatan masyarakat seperti apa yang dimaksudkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\r\n

Maka, disinilah hal yang penting untuk diketahui karena pada pelaksanaannya banyak digunakan untuk kepentingan kampanye pengendalian tembakau oleh pihak kesehatan, dalam hal ini antirokok.<\/p>\r\n<\/blockquote>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika pajak rokok telah terkumpul, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan akan melakukan transfer pajak rokok ini ke daerah-daerah. Biasanya pada saat transfer dana hasil pajak rokok ke daerah, Kemkenterian Keuangan akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya di dalam PMK tersebut diaturlah bagaimana proses transfer dana ke Pemerintah Daerah dan keterangan bahwa alokasinya paling sedikit 50% diwajibkan untuk mendanai pelayanan kesehatan sesuai amanat Undang-undang. Namun biasanya akan diselipkan pasal mengenai pedoman pelaksanaannya berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kita ambil contohnya di tahun 2015 terbit PMK nomor 102 tahun 2015<\/a> terkait pajak rokok yang mana di antara Pasal 31 dan Pasal 32 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 31 A, sehingga berbunyi sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pasal 31 A
(1) Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten\/kota, dialokasikan paling sedikit 50% (lima puluh persen) digunakan untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum oleh aparat yang berwenang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

(2) Penggunaan Pajak Rokok untuk mendanai pelayanan kesehatan masyarakat oleh Provinsi\/Kabupaten\/Kota dilakukan dengan berpedoman pada petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Kesehatan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Maka, setelah adanya pasal yang disisipkan tersebut, akan muncul Peraturan Menteri Kesehatan tentang petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Sepintas tak ada yang bermasalah memang jika Kementerian Kesehatan yang berwenang untuk mengatur petunjuk teknis penggunaan pajak rokok untuk pelayanan kesehatan masyarakat, sebab memang di negara ini untuk urusan kesehatan Kementerian Kesehatanlah pihak yang otoritatif.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun sepatutnya kita harus mencurigai pihak kesehatan yang selama ini selalu berkoar-koar mendiskriminasi perokok dan hal apapun yang berbau rokok yang memang memiliki kepentingan terhadap pengendalian tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Mari kita lihat skema penggunaan pajak rokok sesuai dengan petunjuk teknis Peraturan Kementerian Kesehatan. Penggunaan pajak rokok untuk bidang kesehatan akan dibagi menjadi dua, yakni yang pertama pelayanan kesehatan masyarakat dan kedua penegakan hukum terkait.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk yang pertama, penggunaan pajak rokok dilakukan untuk meningkatkan upaya promotif preventif bidang kesehatan. Upaya promotif preventif ini kemudian dibagi lagi menjadi dua. Pertama untuk menurunkan: 1. Faktor risiko penyakit tidak menular; dan 2. Faktor risiko penyakit menular termasuk imunisasi. Yang Kedua untuk meningkatkan: 1. Promosi kesehatan 2. Kesehatan keluarga 3. Gizi 4. Kesehatan lingkungan 5. Kesehatan kerja dan olah raga 5. Pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dan 6. Pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sementara untuk yang kedua, Penegakan Hukum bidang KTR dan Regulasi lain dalam rangka pengendalian konsumsi rokok (masuk di kotak penegakan hukum bidang KTR). Adapun peruntukannya yakni pertama, review dan penyusunan kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Kedua, implementasi dan pengawasan serta penegakan kebijakan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Untuk point pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya promotif preventif menurunkan faktor resiko penyakit tidak menular menimbulkan kerancuan. Sebab merokok dikategorikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai factor resiko penyakit tidak menular yang berarti alokasi pajak rokok akan banyak digunakan untuk promosi jargon-jargon bahaya merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, pada point upaya promotif preventif untuk meningkatkan, yang perlu dikritisi adalah point kelima mengenai pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya. Dalam petunjuk teknis ini, peningkatan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau lainnya dilakukan melalui upaya promotif dan preventif dalam pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau, dan penetapan kawasan tanpa rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Yang perlu dikritisi adalah pihak kesehatan mengakali dana pajak rokok untuk para antirokok (LSM, Praktisi Hukum, Akademisi, dan pihak kesehatan tentunya) yang mempunyai kepentingan terhadap kampanye pengendalian tembakau. Ketika massifnya kampanye antirokok yang mendiskriminasi dan mengajak masyarakat untuk benci terhadap perokok, petani tembakau, dan stakeholder pertembakauan lainnya untuk kepentingan pengendalian tembakau, ternyata di balik itu mereka memakan dana pajak rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tak heran memang jika Pemerintah Daerah ramai-ramai mengesahkan Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang jika dilihat dengan seksama adalah copy paste dari Perda KTR lainnya, bertujuan untuk mencairkan dana pajak rokok semata. Padahal pajak rokok yang dipungut dari konsumen tersebut seharusnya dipergunakan untuk membuat ruang merokok bagi perokok sebelum mengesahkan Perda KTR.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kebohongan-kebohongan seperti ini juga ditemukan dalam penggunaan hasil cukai rokok yang juga pada pelaksanaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ternyata banyak diakali oleh pihak kesehatan untuk kepentingan pengendalian tembakau. Dan pertanyaannya akankah kita sebagai konsumen rokok berdiam diri melihat pembohongan publik dan kejahatan yang sistematis ini?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bukankah akan lebih baik jika alokasi pajak rokok dialokasikan dengan jelas untuk dimaksimalkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan pendidikan atau pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Dan yang terpenting adalah ketersediaan ruang merokok bagi perokok, bukan untuk bancakan kepada pihak antirokok yang memiliki kepentingan asing dalam mengendalikan sektor pertembakauan di Indonesia.<\/p>\r\n","post_title":"Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dana-pajak-rokok-yang-turut-dinikmati-pihak-kesehatan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:14:27","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:14:27","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7079","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7074,"post_author":"1","post_date":"2020-09-12 10:17:24","post_date_gmt":"2020-09-12 03:17:24","post_content":"\n

Suatu pagi yang cerah pukul 8 pagi kurang 15 menit, mobil Pak Agung, sopir andalan rekomendasi Pak Pardi -penjaga Museum Kudus- tiba di penginapan. Setelah sarapan Soto Kudus yang benar-benar di Kudus, bukan di Jakarta ataupun daerah lainnya dan beberapa tusuk sate telur puyuh serta satu usus, Srintil dan kawan-kawan bergegas melanjutkan ekspedisi di Kota Kudus. Mulai hari ini mereka akan bekerja serius. Ya, sejak kemarin mereka juga telah bekerja dengan serius, hanya saja tak melibatkan banyak orang. Berbeda dengan hari ini, jika kemarin waktu mereka lebih banyak habis untuk menikmati suasana alam di Kudus, maka mulai hari ini mereka akan take video sebagai bahan promosi iklan yang akan tayang di Youtube. Di tengah maraknya isu Youtube yang mulai kalah dengan aplikasi Tik-Tok, Srintil dan tim ekspedisi yang lain tak pernah gentar. Mereka yakin akan ada jutaan pasang mata yang dengan sadar menyaksikan tayangan mereka. 
<\/p>\n\n\n\n

Bagas dan Dimas sebagai penanggung jawab video nampaknya sudah sangat siap dengan peralatan seperti kamera, lensa, tripod, lighting microphone<\/em>, dan sebagainya. Ina dan Ridwan sebagai penanggung jawab konten juga telah mempersiapkan materi dengan apik, sedangkan Sri sebagai penanggung jawab ekspedisi juga nampak tidak sabar untuk memulai proses pengambilan video. Sebentar lagi program perdana pimpinannya akan digarap. Meski bukan kali perdana menjalankan suatu proyek, namun baru kali ini Sri memimpin sebuah ekspedisi. Jika ia gagal, maka nama perusahaanlah yang ia pertaruhkan.
<\/p>\n\n\n\n

###
<\/p>\n\n\n\n

Take video pertama diambil di museum. Mereka akan mengambil beberapa adegan di sekitar Museum dengan Pak Pardi selaku tokoh utamanya. Mereka akan meminta Pak Pardi bercerita sedikit tentang Kota Kudus dan sejarah Museum sebagai opening.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi bercerita bahwa kretek bermula dari kota Kudus. Tak jelas memang asal usul yang akurat tentang rokok kretek. Menurut kisah yang menyebar pada masyarakat sekitar dan beredar di kalangan para pekerja pabrik rokok, riwayat kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, Djamari yang merupakan penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkih. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. 
<\/p>\n\n\n\n

Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkih untuk mendapatkan manfaat cengkih tersebut. Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia mewartakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok buatan Djamari ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkih. Lantaran ketika dihisap, cengkih yang terbakar mengeluarkan bunyi \"keretek\", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan \"rokok kretek\". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daun jagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal.
<\/p>\n\n\n\n

Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan memikat di tangan Nitisemito, perintis industri rokok di Kudus. Bisnis rokok dimulai oleh Nitisemito pada 1906 dan pada 1908. Usahanya resmi terdaftar dengan merek \"Tjap Bal Tiga\". Bisa dikatakan langkah Nitisemito itu menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Menurut beberapa legenda yang beredar di Jawa, rokok sudah dikenal sudah sejak lama. Bahkan sebelun Haji Djamari dan Nitisemito merintisnya. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, yang menggambarkan seorang putri dari Pati yang dijadikan istri oleh Tumenggung Wiroguno, salah seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok \"klobot\" (rokok kretek dengan bungkus kulit jangung kering) yang disukai pembeli terutama kaum laki-laki karena rokok itu direkatkan dengan ludahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Pak Pardi melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan masa kecilnya dimana ia dapat berlarian sepuasnya sepulang sekolah. Lalu bermain layang-layang di belakang rumah, namun lambat laun semua itu hilang. Begitu pula dengan kretek yang juga dilupakan.
<\/p>\n\n\n\n

Memang dalam hidup ada sesuatu yang memang harus dilupakan begitu saja. Bila sebagian manusia berpendapat bahwa tidak ada hal yang sia-sia, namun kita boleh pula berpendapat bahwa harus ada sesuatu yang berjalan sia-sia dan kita harus merelakannya.
<\/p>\n\n\n\n

Hidup terlalu sesak untuk kita telaah. Terlalu penat untuk kita cari hikmah. Kita hanya perlu menghadapi setiap kemungkinan yang ada.
<\/p>\n\n\n\n

Bersambung ..
<\/p>\n","post_title":"Gadis Negeri Tembakau (bag 11)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"gadis-negeri-tembakau-bag-11","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-12 10:17:29","post_modified_gmt":"2020-09-12 03:17:29","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7074","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7070,"post_author":"855","post_date":"2020-09-11 12:53:54","post_date_gmt":"2020-09-11 05:53:54","post_content":"\n

Ada dua sahabat lama bertemu setelah perpisahan yang amat panjang. Sebut saja mereka Sukarji dan Suraji. Sukarji kini adalah pengusaha sekaligus anggota dewan yang uangnya tidak punya seri, Ia adalah salah satu aktivis yang getol ingin memberangus industri hasil tembakau Indonesia. Sementara Suraji sejak dulu masih mencangkul di ladang. Hidup saban harinya ditopang dari hasil menjadi buruh di ladang-ladang tetangganya. Hiburan di kampung halamannya, setelah seharian berjibaku dengan terik dan tanah liat, adalah merokok sembari jagong di warung kopi atau hanya merokok dan mendengarkan radio semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjumpaan itu, selain membicarakan perihal kisah hidup masing-masing, mereka berdua terlibat obrolan perihal harga rokok.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Ra, rokokmu kok mereknya tidak ada di Jakarta?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo, Kar. Ini yang murah. Rokok sekarang mahal. Kadang aku ya ngelinting, biar tetap ada hiburan abis nyangkul di sawah.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Mahal dari mana? Wong Djarum Super sebungkus masih 18 ribu, Gudang Garam juga masih segitu. Itulah kenapa, sekarang anak-anak bisa membeli rokok dengan bebas.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Iyo murah menurutem, Kar. Wong pendapatanmu sebulan bisa dua sampai 3 digit. Lha bagi wong kampung seperti saya ini, yang entah setiap hari dapat uang atau tidak, ya sudah mahal sekali. Kadang memang kita tidak menyadari, mahal atau murahnya sesuatu itu, ditentukan pada persepsi kita masing-masing. Bagi orang berpenghasilan tinggi, seperti dirimu ini, ya pasti bilang harga rokok murah. Lha bagi kami?<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Iya, aku paham. Tapi seharusnya, Indonesia itu kayak Singapura dong. Harga rokok 200 ribu, biar orang-orang berpikir ulang untuk membeli rokok.<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Haduh, Kar, Kar. Yo wajar kalau di Singapura harga rokok 200 ribu. Wong pendapatan mereka sehari setara pendapatan orang-orang kampung sebulan. Malah mungkin lebih banyak. Ya monggo kalau rokok mau dinaikkan, asalkan pendapatan masyarakat juga naik. Ini kalian kok ruwet amat jadi pemangku kebijakan, kalau nda pengen ada rokok di Indonesia, ya tutup saja pabriknya. Larang petani menanam tembakau. Beres.Sukarji: Yo ora bisa mengkono. Nanti negara ga dapat pemasukan dong. Kan dari Industri Hasil Tembakau, negara banyak terbantu.Suraji: Ya kalau begitu, tinggal kalian yang di atas ini bukan menyalahkan rokok. Tapi menyalahkan diri sendiri. <\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Kok bisa begitu?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ya, bisa. Wong kalian ini sudah banyak bikin peraturan soal dunia pertembakauan di Indonesia. Coba baca-baca ulang PP 109 dan seabrek peraturan lainnya. Apakah peraturan itu hanya sebagai bukti bahwa orang-orang atas biar terlihat sudah bekerja? Tapi pengamalan atas peraturan yang mereka buat sendiri, diabaikan? Atau memang dengan menyalahkan \"rokok\" adalah satu dari sekian banyak tujuan mengamankan kepercayaan publik? <\/p>\n\n\n\n

Wong setahu saya, pabrik-pabrik rokok, yang membantu negara menghentaskan pengangguran dan kemiskinan itu, sudah mematuhi poin-poin yang kalian buat. Soal lain-lainnya, ya tergantung bagaimana kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam peraturan tersebut.Atau jangan-jangan, kalian ini cuma mengikuti arus saja, kalo mayoritas bilang, \"rokok biang segala hal negatif di Indonesia, maka kalian akan bilang yang sama. Biar ndak dikucilkan atau tetap pada posisi aman. Kok kalah sama ikan, yang berani berenang menantang arus.<\/p>\n\n\n\n

Sukarji: Halah, itu alasan klasik para perokok saja. <\/p>\n\n\n\n

Suraji: Ngaca, Kar. Kalian menyerang rokok ya alasan template saja. Baca deh berita ini, isinya template belaka. Menyuruh orang komprehensif, tapi kalian sendiri mengajari, bahwa untuk memutuskan sesuatu, cukup pakai satu hal saja. Soal anak kecil merokok, itu bukan karena harga yang kalian bilang \"murah\", tapi kerja pengawasan kalian yang sebenarnya murahan. Tinggal mau mengakui atau tidak!Ya mau bagaimana, uang antirokok masih manis rasanya. <\/p>\n\n\n\n

Mbokku mbiyen ya Fatayat terus Muslimat. Sampai sekarang, setiap seminggu sekali, dari rumah ke rumah, kumpul-kumpul menghidupkan organisasi. Tapi sayang ga jadi DPR, jadi kalau liat anak-anaknya merokok, beliau tetap menasehati. \"Jangan merokok, Le, masih kecil.\" Tapi tentu saja, Mbokku yang tidak DPR itu, tidak lantas mencuci tangan dengan mengatakan \"rokok terlalu murah, bikin anak-anak jadi merokok\". S<\/p>\n\n\n\n

ukarji: Eh, gimana kabar Si Laela?<\/p>\n\n\n\n

Suraji: Jumatan dulu, Kar. Si Laela udah jadi milik orang sekarang. Ia dinikahi Parjo. Parjo perokok berat. Mungkin itulah alasan Laela memilih Parjo. Laela yakin di balik lelaki yang merokok \"berat\", ada keromantisan ketika sang istri yang melintingkan.<\/p>\n\n\n\n

Tulisan ini menanggapi Anggota Komisi IX DPR: Perokok Anak Naik karena Harga Rokok Murah<\/a><\/p>\n","post_title":"Sukarji dan Suraji dalam Berbincang Harga Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sukarji-dan-suraji-dalam-berbincang-harga-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-11 12:54:44","post_modified_gmt":"2020-09-11 05:54:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7070","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7064,"post_author":"855","post_date":"2020-09-09 07:20:05","post_date_gmt":"2020-09-09 00:20:05","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, seorang kawan mengirim video petani tembakau, dengan sangat emosional, mencabuti tanamannya yang sudah siap panen. Tak berselang lama, kawan lain mengirim link berita perihal kasus yang sama, bedanya kali ini para petani membakar tembakau yang sudah siap dijual ke pabrik.

\nTak hanya itu sebenarnya, beberapa kawan lain juga mengirimkan video serupa kepada saya. Video yang berisi petani tembakau mengeluhkan harga jual tidak sebanding dengan modal yang petani keluarkan selama masa tanam dan panen.

\nSejujurnya, tiap mendapat pesan yang menggambarkan kegetiran petani tembakau pada masa tanam di tengah pandemi ini, saya teringat bapak dan banyak tetangga di Rembang, yang juga merasakan kegetiran sama. Beberapa kali, sepupu saya memberi kabar jika banyak petani yang murung lantaran tembakaunya tak terserap. Sekali lagi, tidak terserap. Bukan cuma harga yang melorot, tapi juga tidak terbeli.

\n\"Dek, ini banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. PT. Sadhana tidak mau beli,\" begitu pesan yang dikirimkan sepupu saya, lengkap dengan foto tembakau yang menumpuk di atas truk.

\nSaya bertanya balik kepadanya, sebab apa tembakau petani tak dibeli? Bukannya petani-petani di Rembang kebanyakan bermitra dengan PT. Sadhana? Yang kabarnya, jika petani mau bermitra maka \"terserapnya hasil panen\" adalah jaminan, berapapun harganya?

\nSepupu saya tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan, \"pokoknya panen ini petani menangis. Entah bisa menutup modal atau tidak!\"

\nKarena masih penasaran dengan pertanyaan yang tidak terjawab itu, minggu lalu saya pulang ke rumah bersama beberapa kawan. Bukan hanya untuk menuntaskan pertanyaan yang mengendap dalam hati, tapi juga bagian bakti seorang anak kepada kedua orang tua. Dengan menjenguk dan mencium telapak tangan mereka.

\nDi rumah, saya bisa leluasa berbincang dengan bapak. Menanyakan apapun yang ingin saya tanyakan perihal penen tahun ini.

\nDi dalam rumah saya melihat banyak sekali daun tembakau yang baru dipanen. Tembakau-tembakau ini akan dirajang tepat sehabis salat subuh, tentu saja setelah didiamkan di dalam rumah, kira-kira, 3 hari hingga daun menguning.

\nDi sudut rumah lainnya, saya melihat tembakau yang sudah dibal rapih menumpuk. \"Niki mboten dikirim, Pak?\" Tanya saya sambil memegang bal tembakau itu.

\n\"Sudah. Tapi kembali lagi. Tidak dibeli,\" jawab Bapak singkat.

\nBapak mencoba menerangkan, kenapa banyak tembakau yang terpaksa dibawa pulang. \"Katanya, banyak daun bawah yang sudah dirajang terlalu banyak debu. Dan kata PPL (pengarah tanam), seharusnya daun bawah tidak dirajang dulu. Tapi kan dulu tidak seperti ini, meski dirajang daun bawah tetap dibeli, ya dengan harganya murah. Ya tapi kan dibeli, jadi kan petani ayem (tenang). Padahal petani tidak melakukan kecurangan. Tidak mencampur gula, madu atau lain-lainnya agar warna dan lengket tembakau makin bagus,\" jelas Bapak.

\nSaya agak tergelitik dengan ucapan bapak, \"masalahnya kalau tidak dibeli begini, petani tidak boleh menjual ke pedagang lain. Karena sudah tanda tangan kontrak bermitra.\"

\nSaya menanyakan salinan kontrak yang dimaksud Bapak. Tapi bapak bilang, kalau petani tidak mendapat salinan. Petani hanya menandatangani kontrak semata, sehingga saya pun tak bisa membaca bagaimana bunyi poin per poin kontrak tersebut. Beberapa kali saya juga mencoba mencari akses untuk mendapatkan kontrak tersebut, dan hasilnya selalu nihil.

\nDengan membaca kontrak itu, setidaknya permasalahan menjadi gamblang. Pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab, jika hasil panen akhirnya hanya menjadi rongsokan atau daun tak bernilai belaka. Namanya bermitra, setahu saya, harus saling paham keuntungan dan risikonya. Sehingga sangat konyol sekali jika kontrak itu hanya dipegang oleh salah satu pihak semata.

\nSaya bisa merasakan, betapa dag dig dug hati bapak dan ,mungkin, petani lainnya. Kalau-kalau, hasil panennya tidak bisa menutup cost produksi. Saya mencoba membaca psikis bapak, bahwa saat ini yang diharapkan betul bukan seberapa banyak untung dari hasil panen, melainkan tembakau terbeli dan menutup cost produksi yang telah dikeluarkan. Jika pun akhirnya untuk, tentu saja rasa syukur tak terkira.

\nDi tengah pandemi dan kelakuan pemerintah yang seenak udelnya menaikkan cukai rokok seperti ini, saya mafhum jika pabrikan juga sangat berhati-hati dalam belanja tembakau. Tapi ini kasus yang berbeda, Sadhana telah menjalin kemitraan dengan para petani, konsekuensinya PT. Sadhana seharusnya berlaku bijak untuk menyerap semua hasil panen petani kemitraannya.

\nNahasnya lagi, pemerintah tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang menyangkut hidup dan mati petani tembakau. Yang ada dalam benak mereka hanyalah, bagaimana mengeruk hasil sebanyak-banyaknya dari industri hasil tembakau. Jangan tanya bagaimana pemerintah akan melindungi mereka, wong uang cukai rokok saja mereka gunakan untuk kampanye menyerang tembakau.

\nUntuk petani tembakau di seluruh negeri, yang kuat, yang tabah, mari terus berjuang sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.<\/p>\n","post_title":"Sudah Menanam, Tidak Dibeli: Petani Tembakau di Rembang Bersusah Hati","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-menanam-tidak-dibeli-petani-tembakau-di-rembang-bersusah-hati","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-09 07:20:25","post_modified_gmt":"2020-09-09 00:20:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7064","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7051,"post_author":"853","post_date":"2020-09-04 12:10:34","post_date_gmt":"2020-09-04 05:10:34","post_content":"\r\n

Sekitar 10 tahun yang lalu, keberadaan rokok tingwe masih dianggap sebelah mata terutama oleh orang-orang yang hidup di ibukota serta pinggirannya seperti saya. 5 tahun lalu, mulai banyak orang yang saya lihat mengonsumsi rokok tingwe<\/a>, tapi stratanya masih sama seperti yang dulu. Kini, tingwe telah menjadi tren bahkan bagi orang-orang perkotaan yang urban.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Rokok lintingan sendiri atau rokok linting dewe ini memang menjadi fenomena setidaknya selama satu atau dua tahun terakhir. Kenaikan tarif cukai rokok yang tinggi membuatnya menjadi solusi bagi sebagian orang. Bahkan, lebih dari sekadar solusi, posisi tingwe di hadapan masyarakat kini menjadi lebih tinggi.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dulu, tingwe seringkali diidentikkan dengan orang tua. Ya maklum, hingga saat ini juga masih banyak kakek-nenek yang merokok tingwe. Padahal ya tidak sedikit juga orang lanjut usia yang mengonsumsi rokok kretek yang ada di pasaran. Namun, tetap saja tingwe identik dengan orang tua karena kita dulu melihat mbah-mbah di kampung halaman mengonsumsinya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kini, merokok tingwe telah menjadi tren di kalangan anak muda (bahkan perkotaan). Mereka tak lagi malu biar pun disebut seperti orang tua jika mengonsumsi produk budaya ini. Bahkan mereka merasa keren saja gitu kalau mengonsumsi tingwe.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ada beberapa faktor yang kiranya menjadi penentu mengapa tingwe bisa menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Pertama, tentu adalah kehadiran tembakau gayo yang fenomenal itu. Tembakau<\/a> berwarna hijau yang jika dibakar aromanya mirip ganja itu tengah gandrung di kalangan anak muda. Bahkan harga jual tembakau hijau gayo tergolong paling tinggi ketimbang harga tembakau lainnya.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kedua, tentu saja karena faktor harga rokok yang makin tinggi. Mau diakui atau tidak, tren tingwe ini naik ketika pemerintah menaikkan tarif cukai hingga angka 23%. Hal ini tentu membuat harga rokok naik signifikan dan menjadikannya terbilang mahal untuk sebagian orang.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hal inilah yang kemudian membuat mereka mencoba beralih ke tingwe yang secara ekonomi terbilang jauh lebih murah. Hanya dengan modal uang Rp 20 ribu, mereka bisa sebats sampai satu minggu. Perbandingan yang cukup jauh dibandingkan dengan membeli rokok di pasaran.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keadaan pandemi yang membuat perekonomian semakin sulit dan perkara sebats jadi makin sering kemudian menjadikannya berlipatganda lagi. Sudah harga mahal, uang susah dicari, maka tingwe menjadi solusi. Daripada uang habis untuk rokok yang mahal, ya mending untuk tingwe. Begitu kira-kira.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Namun, faktor yang menjadi fondasi utama dari fenomenalnya tingwe ini adalah kemampuan para pedagang tembakau iris beradaptasi dengan pasar. Kini rokok tingwe tidak melulu soal tembakau yang berat, tapi juga memiliki variasi rasa. Malah ada tembakau iris yang diberikan saus rasa-rasa yang pernah ada. Maksudnya rasa rokok yang pernah ada begitu lo.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Bagi penggemar rokok putihan, ada rasa Malboro. Bagi penggemar Dji Sam Soe atau Djarum Super, tembakau dengan rasa itu juga ada. Bahkan tembakau dengan rasa-rasa susu atau sirup juga ada. Ini kemudian yang melengkapi tembakau khas macam gayo hingga bisa disukai oleh pasar perokok.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tanpa hal terakhir, saya kira rokok tingwe tidak bakal menjadi fenomenal seperti sekarang. Karena adaptasi yang dikakukan oleh para pedagang lah kemudian tingwe bisa jadi tren di kalangan anak muda. Karena adaptasi bagi perokok dan pedagang rokok adalah keniscayaan, mengingat negara ini kerap membuat kebijakan ngaco yang harus disikapi dengan perlawanan.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Beberapa Alasan Kenapa Rokok Tingwe Menjadi Tren di Masyarakat","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"beberapa-alasan-kenapa-rokok-tingwe-menjadi-tren-di-masyarakat","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2021-05-26 12:16:26","post_modified_gmt":"2021-05-26 05:16:26","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7051","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":17},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};