\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.
<\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-19 08:32:58","post_modified_gmt":"2019-04-19 01:32:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5646","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5643,"post_author":"878","post_date":"2019-04-18 10:10:47","post_date_gmt":"2019-04-18 03:10:47","post_content":"\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Temanggung terdapat pasar tembakau yang terkenal saat panen raya, yaitu pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota. Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.
<\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-19 08:32:58","post_modified_gmt":"2019-04-19 01:32:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5646","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5643,"post_author":"878","post_date":"2019-04-18 10:10:47","post_date_gmt":"2019-04-18 03:10:47","post_content":"\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta  \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil<\/em>). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (sang Pencipta).<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung terdapat pasar tembakau yang terkenal saat panen raya, yaitu pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota. Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.
<\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-19 08:32:58","post_modified_gmt":"2019-04-19 01:32:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5646","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5643,"post_author":"878","post_date":"2019-04-18 10:10:47","post_date_gmt":"2019-04-18 03:10:47","post_content":"\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim.  Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanamannya.<\/p>\n\n\n\n

Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta  \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil<\/em>). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (sang Pencipta).<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung terdapat pasar tembakau yang terkenal saat panen raya, yaitu pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota. Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.
<\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-19 08:32:58","post_modified_gmt":"2019-04-19 01:32:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5646","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5643,"post_author":"878","post_date":"2019-04-18 10:10:47","post_date_gmt":"2019-04-18 03:10:47","post_content":"\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5637,"post_author":"855","post_date":"2019-04-16 11:07:27","post_date_gmt":"2019-04-16 04:07:27","post_content":"\n

Terlahir sebagai tunadaksa atau tanpa tangan, tidak membuat Shadikin Pard pesimis menjalan hidup. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa kekurangan bukanlah aral melintang yang mengganjal langkah menuju kesuksesan.<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Hujan sudah reda ketika kaki saya memasuki gerbang Taman Balekambang, Surakarta. Di dalam, di atas tanah yang masih basah, ratusan pelukis dari penjuru negeri sedang sibuk mengaktualisasikan kegelisahan hatinya ke sebuah kanvas. Mereka sedang mengikuti Indonesia Painting Contest 2019 yang diselenggarakan oleh NU Gallery.
<\/p>\n\n\n\n

Saya terus melangkah menyusuri tanah basah yang di samping kanan dan kirinya para pelukis sedang khidmat menggoreskan kuas. Hingga kaki saya terhenti di hadapan pelukis yang berkonsentrasi melukis menggunakan kedua kakinya.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang kuas dijepitkan di antara jemari kaki. Sesekali ia menyelupkan kuas itu ke dalam cat dan kemudian menggoreskannya ke dalam kanvas hingga membentuk sebuah lukisan realis Reog Ponorogo yang indah. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di sampingnya, seorang pemuda yang ternyata anaknya dengan sigap menjalankan instruksi ayahnya, mulai dari mengganti ukuran kuas yang terjepit di antara jemarinya, membuka botol cat dan lain sebagainya. Sesekali anaknya menyalakan rokok dan menyodorkan ke hadapan mulut ayahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Ia melukis Reog Ponorogo bukan tanpa alasan. Ia ingin memberikan kritik kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah, bahwa mencintai kekayaan budaya bangsa sendiri adalah kewajiban yang harus selalu digelorakan. Jangan sampai, ketika kebudayaan tersebut direbut negara lain, bangsa ini baru panik dan serius mengakui serta membanggakan kekayaan kebudayaan sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Ialah Shadikin Pard, seorang pelukis masyhur yang terlahir tunadaksa atau tanpa kedua tangan. Kami berbincang di bawah pohon beringin rindang. Di antara para pelukis lainnya yang sedang beristirahat menunggu waktu pengumuman pemenang dibacakan.
<\/p>\n\n\n\n

Pria kelahiran 29 Oktober 1996 ini mulai melukis sejak masih di taman kanak-kanak. Saat itu, melukis hanya sebagai hobi semata. Sadikin juga pernah les privat melukis di rumahnya. Hingga mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di SMA Santa Maria Kota Malang, Sadikin masih menempatkan melukis sebagai hobi.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah keterbatasannya, Sadikin lalu melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kala itu, Sadikin mengambil jurusan psikologi pascagagal mengambil jurusan arsitektur yang ia dambakan dan cita-citakan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, kekurangan yang diberikan Tuhan adalah sebuah kelebihan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Kegigihannya dalam belajar melukis menghantarkannya ke Associaton of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Sebuah organisasi yang bermarkas di Swiss dan menghimpun karya pelukis yang melukis menggunakan kaki dan mulut.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSetelah masuk AMFPA, saya menjadikan melukis sebagai profesi. Tahun 1989 saya menerima 300 swiss franc, setara Rp 300 ribu waktu itu. Kini, saya menerima sekitar 40 jt setiap bulan,\u201d ungkap Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin terus melukis. Kemampuannya terus berkembang, bahkan melebihi tuntutan dari organisasi yang ia ikuti. Nama Sadikin juga mulai dikenal, bukan sebab keterbatasannya, melainkan sebab karyanya yang memang bernilai tinggi.
<\/p>\n\n\n\n

Setiap kali ada pameran lukisan dan kontes-kontes melukis, Sadikin tidak pernah alfa untuk mengikutinya. Karyanya menjadi sorotan publik dan banyak laku dengan harga yang tidak murah. Bahkan menurutnya, ada salah satu lukisannya yang laku hingga Rp 250 juta.<\/p>\n\n\n\n

Menolak Pasrah dan Bergantung kepada Pemerintah karena Disabilitas<\/strong>
<\/h3>\n\n\n\n

Sadikin tidak mau dikasihani orang lain. Meski ia tunadaksa, ia adalah manusia yang sama, yang memilki kesempatan besar untuk menjalani rutinitas sebagaimana manusia lainnya. \u201cKuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba. Saya tidak apa-apa dicemooh lukisan saya jelek. Bagi saya cemoohan seperti itu adalah cambuk untuk terus berlatih,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Sadikin, masyarakat harus adil memerlakukan para difabel. Difabel harus diperlakukan sebagaimana orang biasa. Semakin banyak orang yang mengasihani difabel, maka tidak malah membuat difabel itu kuat, sebaliknya berdampak melemahkan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin.
<\/p>\n\n\n\n

Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut.
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n

Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem.
<\/p>\n\n\n\n

Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n

Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n

Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek.  Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n

Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau.  Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan.
<\/p>\n\n\n\n

Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup?
<\/p>\n\n\n\n

Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa  filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>.  Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n