Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun.
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem. Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem. Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem. Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem. Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem. Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n Baca: Alkisah Sebutan Kudus Kota Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Lain halnya Nitisemito, di sebelah selatan masjid Menara Kudus terdengar cerita nama Subhan ZE pernah menjabat ketua Anshor PBNU, yang sejak kecil sudah bergelut dengan tembakau sampai dewasa, karena keberadaan ayah angkatnya sebagai pedagang tembakau. Begitu juga cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, bahwa dulu ayahnya adalah pedagang tembakau menyewa kios di selatan Masjid Menara Kudus. Sejak kecil sering ia sering membantu ayahnya mengolah dan membungkus tembakau. Jadi tidak heran kalau KH. Sya\u2019roni mulai menghisap kretek pada umur 10 tahun. Diceritakan pula, bahwa ayah mertua KH. Arwani Amin al-Hafiz (Al Maghfurlah) bernama H. Abdul Hamid (Al Maghfurlah) selain berdagang kitab juga mempunyai industri kretek rumahan. Cerita H. Yusrul Hana Sya\u2019roni (Gus Hana), KH. Arwani Amin (Al Maghfurlah) tidak menghisap kretek, akan tetapi di ruang tamu beliau terdapat tiga kotak, yang isinya kretek, uang receh dan permen. Ketiga barang tersebut selalu di sediakan untuk menjamu tamu. Tamu anak-anak dikasih permen, tamu usia remaja dikasih uang, dan bagi tamu dewasa dan orang tua disuguhkan kretek. Dari dua perdagangan di atas yang masih banyak ditemukan dan eksis di Kudus Kulon hanya konveksi. Sedangkan perdagangan sektor pertembakauan di Kudus Kulon sekarang ini tinggal beberapa glintir, dan bahkan ada yang sudah tutup, ada juga gudang usaha masih berdiri tegak, namun tidak beroperasional lagi. Selanjutnya, ada pertanyaan, mengapa Kudus Kulon yang dahulu banyak dijumpai santri berkecimpung dalam perdagangan sektor pertembakauan, sekarang ini jarang di jumpai bahkan ada yang tutup? Jawabannya bukan karena adanya fatwa MUI atau fatwa Muhammadiyah mengharamkan kretek. Akan tetapi, pertama<\/em>; karena regulasi dan peraturan pemerintah yang selalu menaikkan beban cukai, mengatur tentang ketentuan tempat pengolahan hasil tembakau harus 200m2<\/sup> dan lain sebagainya. Kedua<\/em>; terjadi ekpansi besar besaran, ke daerah Kudus Wetan, karena lahan yang ada di Kudus Kulon padat penduduk, dan mobilitas tinggi. <\/p>\n\n\n\n Baca: Akulturasi dan Toleransi Antar Umat Beragama di Kota Kretek, Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Kejayaan kota Kudus, selain sebagai basis santri juga basis <\/em>usaha kecil, menengah dan besar. Tidak terlepas dari keberadaan Sunan Kudus. Dalam sejarahnya diyakini masyarakat, bahwa filosofi hidup masyarakat Kudus adalah \u201cGUSJIGANG\u201d: bagus, ngaji lan dagang<\/em>. Artinya, berkepribadian bagus (berakhlak mulia), tekun mengaji dan pandai berdagang. Artinya mampu mengenal dan membaca peluang usaha, serta ulet. Salah satu perdagangan yang terkenal dari dulu hingga sekarang adalah perdagangan sektor pertembakauan, mulai perdagangan bahan baku berupa tembakau dan cengkeh, juga perdagangan hasil olahan keduanya, berupa \u201crokok kretek\u201d. <\/p>\n\n\n\n Jadi keberadaan rokok kretek sudah mendarah daging sebagian besar masyarakat Kudus. Bahkan hingga saat ini, sektor pertembakauan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Kudus. Artinya, lesunya perdagangan di Kudus, sangat dipengaruhi lesunya perdagangan pertembakauan. Pasar \u2013pasar sepi, disaat pasar rokok kretek menurun. \u201cDifabel harus diperlakukan seperti manusia biasa, bahkan ia harus diberi tantangan dan ditempa untuk menemukan kelebihan dalam dirinya,\u201d kata Sadikin. Bagi Sadikin, para difabel harus mulai mengubah sudut pandang. Bahwa segala kekurangan tidak kemudian menjadikan para difabel pasrah menerima nasib dan mengharapkan santunan dari orang lain dan pemerintah untuk menjalani hidup. Difabel adalah orang istimewa yang dapat berkarya melebihi orang-orang biasa. Kekurangan ini adalah kelebihan yang akan ditemukan dengan kerja keras dan melatih diri menjadi apa yang diinginkan. Sadikin bisa berangkat ke Swiss dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, tidak terlebih dulu mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengaku berangkat dengan uang sendiri. Bahkan, lanjut Sadikin, hingga kini pun tidak ada pemerintah yang mengapresiasi karya-karyanya. \u201cSaya tidak menginginkan belas kasihan dari pemerintah. Karena yang sejatinya benar adalah, kita dapat memberikan apa kepada negara ini, bukan negara dapat memberikan apa kepada kita. Namun yang saya sayangkan, pemerintah sepertinya tidak peduli memperhatikan para seniman dan menghargai karya seni dari para seniman negeri sendiri. Seharusnya para seniman ini diberikan wadah, diperhatikan, kan juga kalau manajemennya bagus bisa menjadi pemasukan untuk negara,\u201d tegas Sadikin. Sadikin mengirim pesan kepada seluruh seniman di Tanah Air untuk terus berkaraya, tanpa peduli akan bernilai apa sebuah karya tersebut. \u201cYang terpenting kita dapat mengaktulisasikan diri dan terus melukis dengan niat mengharumkan nama negeri. Teruslah berkarya, karena sejatinya karya adalah yang dibuat dengan kesungguhan dan keikhlasan hati,\u201d pungkas pelukis beranak dua tersebut. Kudus merupakan wilayah terkecil dibanding kota lain di provinsi Jawa Tengah. Dahulu semboyan kota Kudus adalah \u201cSemarak\u201d (sehat, elok, maju, aman, rapi, asri, konstitusional), semboyan tersebut tidak sepopuler dengan julukan Kudus Kota Santri dan Kota Kretek. Dua julukan tersebut sudah melekat bagi Kota Kudus. Di Kudus terdapat dua Wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus (Ja\u2019far Shodiq) dan Sunan Muria (Umar Said). Konon, penamaan Kudus berasal dari kata al-Quds nama lain Baitul Maqdis dan Yarussalem. Sebagian besar masyarakat Kudus masih membagi wilayah menjadi Kudus Wetan (timur) dan Kudus Kulon (barat). Bagi kebanyakan masyarakat, Kudus Kulon diidentikkan dengan masyarakat agamis. Hal itu sangat wajar, karena selain terdapat bangunan cagar budaya masjid Menara Kudus, Makam Sunan Kudus, juga terdapat perkampungan pesantren dan tokoh Kiai\/Ulama\u2019. Sebagai contoh, KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) dahulu pernah menjadi santri di wilayah sekitar masjid Menara yaitu belajar dengan Kiai Ishak Damaran (Al Maghfurlah) dan belajar kepada KH. R. Muhammad Shaleh bin Asnawi (Al Maghfurlah). KH. Saleh Darat (Al Maghfurlah) seorang Ulama\u2019 asli dari Jepara kemudian mukim diperkampungan Darat Semarang, yang banyak mencetak Kiai\/Ulama\u2019 nasional seperti KH. Hasyim Asy\u2019ari Al Maghfurlah (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan Al Maghfurlah (pendiri Muhammadiyah), KH. Mahfudz Tremas Al Maghfurlah, KH. R. Dahlan Tremas Al Maghfurlah dan masih banyak lagi Kiai\/Ulama\u2019 yang dahulu pernah menjadi santrinya termasuk R.A Kartini. Sedangkan Kudus wetan sebagai kantor pemerintahan, kantor swasta dan industri besar.<\/p>\n\n\n\n Antara Kudus Kulon dan Kudus Wetan di batasi dengan sungai bernama \u201cGelis\u201d terkenal dengan sebutan \u201ckali gelis\u201d. Banyak orang tua disekitar masjid menara menceritakan, bahwa pada zaman kewalian, kali gelis digunakan sebagai jalur transportasi perdagangan dari penjuru kota. Salah satu perdagangan yang terkenal saat itu adalah tembakau. Dahulu di sekitar Masjid al-Aqsha Menara Kudusterdapat pasar (sekarang sudah tidak ada), tepatnya di depan Menara agak keselatan, sekarang ini dibuat taman dan kios kios kecil. Pasar tersebut terkenal dengan julukan pasar bubar. Di pasar itulah dahulu tempat berjualan dan tempat berdagang terbesar di Kudus. Di tengah-tengah pasar terdapat masjid kecil, sering disebut masjid wali. Untuk masuk masjid tersebut harus membungkukkan badan sebagai pemberian hormat dan supaya tidak sombong, karena pintunya didesain sangat pendek. <\/p>\n\n\n\n Selain banyak pesantren, di Kudus Kulon terdapat beberapa sektor usaha rumahan, salah satunya konveksi (jahit menjahit pakaian) dan sektor pertembakaun. Baik berdagang tembakau sampai pada perdagangan hasil olahan tembakau (kretek). <\/p>\n\n\n\n Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi masyarakat konveksi, kemahiran di dapat dari kota Malang Jawa Timur. Sampai pernah di salah satu jalan di Kota Malang diberi nama jalan Kudusan, saat ini telah diganti dengan jalan KH. Zainul Arifin. Dalam catatan sejarah di sekitar Kudus Kulon terdapat perdagangan tembakau dan kretek. Di dekat kali Gelis masih terdapat bangunan rumah dan sekarang menjadi cagar budaya, konon dahulu sebagai tempat tinggal pengusaha kretek terkenal dengan julukan Raja Kretek yaitu Nitisemito. Dalam sejarah perjalanan keliling kota, Nitisemito selalu menyempatkan masuk masjid kota yang disinggahi dan memberikan hadiah berupa jam dinding besar. <\/p>\n\n\n\n Walaupun sebagai saudagar besar, Nitisemito tetap tunduk ajaran agama yang di bawa Sunan Kudus, seperti halnya tidak boleh memotong binatang sapi. Hal itu di praktekkan, dalam acara apapun Nitisemito tidak memakai daging sapi melainkan daging kerbau sebagai jamuan para tamu yang hadir. Bahkan, dalam menjamu tamu, daging kerbau diolah sesuai makanan kesukaan Sunan Kudus, yaitu masakan nasi jangkrik.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kudus-kota-santri-dan-kota-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-15 10:42:30","post_modified_gmt":"2019-04-15 03:42:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5634","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":10},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Shadikin Pard, Pelukis Tanpa Lengan yang Mengharumkan Bangsa dengan Kedua Kakinya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"shadikin-pard-pelukis-tanpa-lengan-yang-mengharumkan-bangsa-dengan-kedua-kakinya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-16 11:09:38","post_modified_gmt":"2019-04-16 04:09:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5637","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5634,"post_author":"877","post_date":"2019-04-15 10:42:23","post_date_gmt":"2019-04-15 03:42:23","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n