\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n

Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n


Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n


Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n


Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n


Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n


Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n


Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n


Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n


Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n


Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n


Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5940,"post_author":"883","post_date":"2019-08-07 07:47:59","post_date_gmt":"2019-08-07 00:47:59","post_content":"\n

Perang diskon rokok sedang disorot, berbagai pihak menanggapinya dengan sentimen negatif. Perang diskon rokok dianggap mengerek angka kemiskinan. Sungguh miris, logika macam apa yang dipakai sampai mengaitkan dengan meningkatnya angka kemiskinan. Padahal semua orang di dunia sepakat, bahwa ketika harga produk konsumsi semakin murah, justru akan mengurangi beban pengeluaran masyarakat.
<\/p>\n\n\n\n

Logika ini harus dibenahi, sebab mereka hanya bertujuan mendorong harga rokok harus mahal, bukan murni atas pengamatan ekonomi yang komprehensif. Selain itu mereka juga bukanlah perokok, dan tidak pernah mengambil dari sudut pandang perokok yang jelas dalam konteks perang diskon rokok merupakan objek.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasib Industri Kecil Pengolahan Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lantas asumsi bahwa perang diskon rokok merupakan sesuatu yang negaitf karena mengakibatkan meningkatnya angka kemiskinan hadirnya darimana? Tentu tidak salah jika kita menuding bahwa mereka \u2018diorder\u2019 untuk kepentingan yang lain.
<\/p>\n\n\n\n

Tidak ada yang salah dari perang diskon rokok. Justru ini menguntungkan bagi konsumen. Pilihan atas barang konsumsinya makin beragam dan harganya jadi makin terjangkau. Bukankah ini menguntungkan?
<\/p>\n\n\n\n

Kita lihat contohnya perang diskon antara Gojek (Gopay) dan Grab (OVO), kedua perusahaan dengan bombastis berperang diskon harga jasa layanan maupun transaksi melalui platform mereka. Perang diskon ini membuat masyarakat diuntungkan dengan jasa transportasi online yang murah, mendapat potongan harga di setiap transaksi yang menggunakan platform keduanya. Karena yang menaggung beban perang diskon bukanlah konsumen, tapi pihak perusahaan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Relaksasi dan Rekreasi dengan Rokok<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Konsumen diuntungkan, sebab jika sebelum ada perang diskon semisal pengeluaran seseorang untuk layanan transportasi online Rp 100 ribu\/bulan, ketika ada perang diskon bisa dipangkas menjadi Rp 50 ribu\/bulan. Adapun jika ada seseorang yang justru menjadi lebih boros pengeluarannya akibat perang diskon, tentu yang salah ada kontrol atas konsumsinya, bukan perang diskonnya.
<\/p>\n\n\n\n

Sama hal-nya dengan perang diskon rokok, perokok yang biasanya mengeluarkan uang Rp 100 ribu\/bulan untuk konsumsi rokok, dengan adanya perang diskon pengeluarannya menjadi hemat Rp 50 ribu\/bulan. Sehingga jatah pengeluaran sisanya bisa dialihkan untuk produk konsumsi lainnya. Argumentasi menambah beban pengeluaran jelas-jelas harus ditolak.
<\/p>\n\n\n\n

Hal lainnya yang tidak bisa disepakati dari logika perang diskon rokok menambah angka kemiskinan adalah perhitungan konsumsi seseorang tidak melulu bisa dirumuskan dengan logika matematika.<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Bahwa hari ini seorang perokok mengonsumsi rokok sebungkus, belum tentu besoknya tetap sebungkus atau tambah jadi dua bungkus, malah bisa saja esok harinya perokok hanya menghisap sebatang saja. Sebab seorang perokok juga tahu batasan konsumsi dan kemampuan ekonomi mereka atas barang konsumsinya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun dari perang diskon rokok menyebabkan harga jual rokok menjadi lebih murah ketimbang beban cukainya, toh kewajiban membayar cukai rokok kepada negara tetap dipenuhi. Melekatkan harga lebih murah ketimbang beban cukai masih bisa dilakukan asalkan tidak melewati harga jual eceran minimun yang telah ditentukan.
<\/p>\n\n\n\n

Dari perang diskon rokok ini yang harus diperhatikan sebenarnya bukan pada persoalan menambah angka kemiskinan, karena hal tersebut jelas sangat cacat logika, melainkan persoalan rentan terjadinya monopoli pasar yang disebabkan munculnya kesepakatan antar perusahaan atau bisa disebut juga kartel harga. Ini yang harusnya diperhatikan sehingga perang diskon rokok tetap bisa dijalankan tanpa mengorbankan kewarasan persaingan dagang.
<\/p>\n","post_title":"Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membantah-perang-diskon-rokok-sebagai-penyebab-meningkatnya-angka-kemiskinan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-07 07:48:01","post_modified_gmt":"2019-08-07 00:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5940","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};