Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n
Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n
Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n
Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n
Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n
Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n
Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n
Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n
Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n
Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n
Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n
Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok. <\/p>\n\n\n\n Bicara perihal olahraga nasional dan prestasi olahraga nasional di kancah dunia, pesimisme menguar ke penjuru udara negeri ini. Di negeri yang dihuni lebih dari 250 juta jiwa manusia kini, kita seakan menjadi medioker saja di kancah dunia olahraga dewasa ini, bahkan sejak dahulu. Ragam jenis cabang olahraga yang dipertandingkan, perwakilan atlet dari negeri kita seakan sekadar jadi pelengkap dan penggembira saja. Jarang sekali perwakilan atlet dari negeri ini yang diperhitungkan di kancah olahraga tingkat dunia.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja. Memaknai kemerdekaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menggelar berbagai macam perlombaan maupun kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan perayaan kemerdekaan. Di sektor pertembakauan, hari kemerdekaan berbarengan dengan masa panen tembakau di berbagai wilayah sentra penghasil tembakau. Ya, panen tembakau merupakan bagian dari kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n Panen tembakau tahun ini secara umum bisa dibilang sukses, bahkan diproyeksikan tumbuh dari tahun lalu. Dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) memproyeksikan produksi tembakau pada tahun ini akan tumbuh 22,69% menjadi 200.000 ton dari reralisasi akhir tahun lalu sekitar 163.000 ton.<\/p>\n\n\n\n Jika produksi tembakau meningkat, maka serapan tembakau lokal oleh industri rokok besar juga akan mengalami peningkatan. Menurut Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno hanya 20%-25% dari hasil produksi tembakau yang sesuai dengan klasifikasi pabrik rokok besar. Adapun prediksi serapan tembakau domestik oleh pabrik rokok besar akan menjadi sekitar 40.000\u201450.000 ton pada tahun ini.<\/p>\n\n\n\n Hari kemerdekaan tahun ini akan menjadi berkah tersendiri bagi para petani tembakau, musim panen dirayakan dengan sukacita. Sama halnya dengan perjuangan merebut kemerdekaan, para petani tembakau juga melewati rangkaian perjuangan dari mulai menanam, merawat, hingga tiba saat yang paling membahagiakan, yaitu musim panen.<\/p>\n\n\n\n Proses perjuangan menanam tembakau bisa dilihat dari potret pertanian tembakau di Kabupaten Temanggung, pembenihan bibit tembakau mulai berlangsung sejak bulan Februari hingga bulan April. Kemudian pada bulan April bibit-bibit tembakau tersebut dipindahkan ke ladang-ladang tembakau yang telah disiapkan. <\/p>\n\n\n\n Selama proses pembenihan bibit ini, pengontrolan harus maksimal dilakukan. Pemberian pupuk, penyiraman dengan air, dan seleksi serta memeriksa perkembangan bibit mesti rutin dilakukan.<\/p>\n\n\n\n Bibit yang berkualitas akan muncul dalam satu hingga satu setengah bulan usai pembenihan dengan ciri-ciri akar serabut yang banyak, batang dan percabangan yang kokoh, dan sudah tumbuh daun-daun tembakau dalam jumlah yang cukup banyak. Bibit dengan kondisi seperti inilah yang bisa digunakan. Selanjutnya, pada bulan April kelak, masa pembibitan usai dan proses penanaman tembakau di ladang dimulai untuk wilayah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n Setelah melewati masa perjuangan menanam tembakau, tentu masa panen menjadi euforia kemerdekaan bagi petani tembakau, puncak euforia kemerdekannya adalah ketika hasil panen tembakau para petani dibeli dengan harga tinggi oleh pabrikan. Momentum jual-beli tembakau ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani. Sebab mereka akan memetik hasil yang setimpal dengan perjuangan mereka.<\/p>\n\n\n\n Tapi juga kemerdekaan ditentukan dari proses perjuangan para petani, jika perjuangan ketika menanam dan merawatnya dilakukan dengan baik, maka dapat dipastikan tembakau berkualitas menjadi hasil panen yang dipetik.<\/p>\n\n\n\n Dan yang terakhir agar perayaan kemerdekaan para petani tembakau menjadi paripurna, tentu pemerintah harus melek dengan kondisi sektor pertembakauan nasional. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif di sektor pertembakauan jangan lagi ditelurkan oleh pemerintah, seperti kebijakan pembatasan sampai pelarangan hak merokok bagi konsumen, kenaikan cukai yang tinggi, simplifikasi cukai hingga pembatasan produksi produk hasil tembakau. <\/p>\n\n\n\n Di hari kemerdekaan ini mari kita dukung suka cita para petani tembakau dalam memanen tembakau mereka. Hidup petani tembakau! Hidup kretek! Merdeka!<\/p>\n","post_title":"Memanen Tembakau, Merayakan Kemerdekaan Petani Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"memanen-tembakau-merayakan-kemerdekaan-petani-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-17 06:44:07","post_modified_gmt":"2019-08-16 23:44:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5967","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid. Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya. Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya. Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5956,"post_author":"877","post_date":"2019-08-14 11:00:51","post_date_gmt":"2019-08-14 04:00:51","post_content":"\n
Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya. <\/p>\n\n\n\n
Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif. <\/p>\n\n\n\n
KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak \u2013anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari. <\/p>\n\n\n\n
Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot. <\/p>\n\n\n\n
Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri. <\/p>\n\n\n\n
Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.<\/p>\n\n\n\n
Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain. <\/p>\n\n\n\n
Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia. <\/p>\n","post_title":"Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sesat-pikir-kpai-melarang-audisi-pencarian-bakat-bulutangkis-anak-anak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-14 11:00:58","post_modified_gmt":"2019-08-14 04:00:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5956","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5953,"post_author":"878","post_date":"2019-08-13 11:25:30","post_date_gmt":"2019-08-13 04:25:30","post_content":"\n
Akan tetapi, di tengah hembusan pesimisme prestasi dunia olahraga kita di kancah dunia, ada sedikit angin segar yang bisa membikin kita bangga. Terkadang kebanggaan itu betul-betul membikin kita bahagia. Kebanggaan itu datangnya dari cabang olahraga bulutangis.
Lewat bulutangkis, kita pernah benar-benar menguasai dunia. Sekali lagi, menguasai dunia. Baik itu lewat perorangan, ganda, atau beregu, kitalah rajanya untuk perkara bulutangkis. Kejayaan bulutangkis kita saya rasa dimulai dan sampai pada puncaknya di era Rudy Hartono. Namun itu berlangsung cukup panjang dengan Tiongkok cukup konsisten selalu menjadi pengganggu. Setelah Rudy Hartono, berturut-turut kita bisa menyebut nama untuk mewakili kejayaan bulutangkis kita di dunia. Baik itu pada era yang berbeda, maupun sama. Ada Liem Swie King, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat, dan beberapa nama lainnya. Susi Susanti dan Taufik Hidayat saya kira menjadi masa akhir puncak kejayaan, setelah itu, pelan-pelan meredup. Hingga akhirnya beberapa tahun belakangan, asa untuk kembali mencapai puncak kejayaan kembali tumbuh usai melihat prestasi menjanjikan beberapa atlet muda potensial milik negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Dari sekian nama yang saya sebutkan di atas, beberapa di antaranya berasal dari sebuah klub bulu tangkis yang didirikan oleh pemilik perusahaan rokok kretek Djarum. Ia mendirikan itu pada mulanya sebatas karena kecintaannya pada olahraga bulu tangkis. Pada 1969, di Kudus, Budi Hartono menyediakan ruang di pabrik miliknya untuk berlatih bulu tangkis. Selain Ia dan beberapa rekan, latihan diikuti karyawan pabrik PT Djarum. Setahun berikutnya, tak hanya karyawan, masyarakat umum juga ikut berlatih di sana.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu yang ikut berlatih, adalah seorang remaja asal Kudus bernama Liem Swie King. Bakat menonjol King sejak muda membikin orang disekelilingnya mendorong Ia ikut berbagai kejuaraan. Pada usia 16 tahun, King sudah menjuarai kejuaraan bulutangkis junior se-Jawa Tengah. Setahun berikutnya, King masuk final pada perhelatan PON, di usia 17 tahun, medali perak tingkat nasional sudah berhasil Ia raih. Setahun berikutnya, King ikut pelatnas, dan di tahun pertama langsung menjuarai kejurnas.
Melihat prestasi yang ditorehkan King dikancah nasional, Budi Hartono tergerak untuk menyeriusi pusat pelatihan bulutangkisnya. Pada 1974, setelah sebelumnya selama lima tahun klub latihan bulutangkis yang diinisiasi Budi Hartono bernama Komunitas Kudus, Persatuan Bulutangis (PB) Djarum resmi berdiri. Rudi Hartono membangun pusat pelatihan dengan fasilitas yang sangat baik. Hingga hari ini, pusat pelatihan itu menjadi yang terbaik di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n
Keberadaan PB Djarum memberi peran sangat besar terhadap prestasi olahraga bulutangkis Indonesia di dunia internasional. Hampir setiap kejuaraan bulutangkis internasional perwakilan atlet nasional didikan PB Djarum mewakili negeri ini, dan tak jarang membawa kebanggaan bagi bangsa. Salah satu puncaknya, pada kejuaraan Piala Thomas tahun 1984, ketika Tim Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas, tujuh dari delapan atlet yang masuk Tim Indonesia, berasal dari PB Djarum. Hanya Icuk Sugiarto yang tidak berasal dari PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Medali emas pertama yang diraih Indonesia di ajang Olimpiade, berasal dari bulutangkis. Susi Susanti peraihnya. Alan Budikusuma, berhasil mengawinkan gelar tunggal putra dengan tunggal putri usai Ia meraih medali emas di olimpiade yang dihelat di Barcelona. Alan Budikusuma, adalah salah satu atlet nasional jebolan PB Djarum. Pada Olimpiade terakhir, 2016 di Rio De Jeneiro, Brasil, medali emas juga disumbangkan dari cabang olahraga bulutangkis. Ganda campuran. Salah satunya, Butet. Lilyana Natsir atau Butet, kini juga bekerja dalam tim yang dibentuk PB Djarum untuk mengaudisi calon atlet yang akan menerima beasiswa bulutangkis secara penuh. Di sana Ia menjabat sebagai Technical Advisor.<\/p>\n\n\n\n
Audisi ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Tujuannya menjaring bakat-bakat menonjol anak-anak dalam bidang bulutangkis. Selain akan didampingi untuk mengembangkan bakat di bidang bulutangkis, anak-anak ini juga dijamin pendidikan formalnya. Sudah barang tentu, karena kejayaan olahraga bulutangkis Indonesia, banyak anak bermimpi ingin menjadi atlet bulutangkis nasional lewat PB Djarum.
Tahun ini saja, ada lebih 9000 anak yang mengikuti audisi untuk memperebutkan jatah 23 tempat. Betapa keras persaingan. Namun, 9000 anak itu sebelumnya juga sudah melalui beberapa tahap seleksi mulai dari seleksi tingkat kampung, klub bulutangkis lokal, atau setidaknya sudah berlatih keras di bawah bimbingan orangtua di rumah. Bisa tembus hingga audisi, menjadi kebanggaan bagi mereka. Lebih lagi jika lolos audisi dan mendapat beasiswa bulutangkis PB Djarum.<\/p>\n\n\n\n
Setelah cukup lama prestasi bulutangkis negeri ini meredup, geliat kebangkitan kembali terasa. Atlet-atlet muda berprestasi mulai menampakkan diri. Sebagian lagi-lagi adalah atlet jebolan PB Djarum. Kevin Sanjaya dan Tontowi Ahmad, menjadi dua di antaranya. Melihat geliat ini, patut kiranya kita optimis akan kebangkitan bulutangkis kita. Lebih lagi PB Djarum kian serius membina atlet-atlet muda lewat program beasiswanya. Sayangnya, optimisme kebangkitan ini diusik oleh mereka yang mengatasnamakan anak-anak. <\/p>\n\n\n\n
Sepemantauan saya, sejak pertengahan Juli 2019 hingga saat ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membikin geger banyak pemberitaan di media massa dan media sosial karena ide mereka yang memprotes audisi beasiswa bulu tangkis yang diadakan Yayasan Djarum Foundation bekerja sama dengan klub bulutangkis PB Djarum. Mereka berpendapat audisi itu mesti dihentikan karena terindikasi mengeksploitasi anak dalam kegiatannya.
Ada salah kaprah dan kegagalan memahami peristiwa yang mendorong KPAI pada akhirnya menuduh dengan gegabah bahwasanya audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan Djarum Foundation dan PB Djarum adalah bentuk eksploitasi anak. Sayangnya, kegagalan memahami peristiwa itu dilanjutkan dengan mengeluarkan pernyataan dan bahkan tuntutan mengada-ada tanpa usaha mendalami dan mencoba lebih memahami peristiwa yang terjadi dalam perhelatan audisi beasiswa bulu tangkis.
Tuduhan eksploitasi anak adalah tuduhan yang serampangan dan sama sekali tidak tepat. Salah satunya mereka beralasan anak-anak digunakan sebagai alat untuk mempromosikan produk rokok. Ini terjadi karena anak-anak yang ikut audisi beasiswa bulutangkis PB Djarum mendapat kaus bertuliskan PB Djarum. Lah, kan aneh. PB Djarum itu nama klub bulutangkis. Hanya saja namanya memang mirip dengan produk rokok asal Kudus. Tentu ini wajar karena pendirinya sama, dan biaya berasal dari sumber yang sama. Kecuali kamu yang membiayai, boleh kamu beri nama beasiswa Perlindungan Anak, atau beasiswa bulutangkis Lentera Anak. Terserah. Ya terserah yang memberi dana.<\/p>\n\n\n\n
Tapi, tuduhan iklan itu, tentu saja salah sasaran. Anak-anak tidak mengiklankan rokok. Anak-anak juga tidak diminta untuk merokok. Bodoh saja jika itu terjadi. Bahkan, PB Djarum mengeluarkan peraturan keras, anak-anak binaannya yang menerima beasiswa, jika kedapatan merokok, akan langsung dipecat tanpa peringatan. Jadi, dari mana iklan rokoknya?<\/p>\n\n\n\n
Ada pihak swasta, yang sama sekali tidak mengganggu negara, sama sekali tidak mengeksploitasi anak-anak, malah hendak membantu, dan sudah terbukti dalam jangka waktu yang cukup panjang berhasil mengharumkan nama baik bangsa lewat cabang olahraga bulutangkis, malah diganggu dan program beasiswa dengan dana besar itu minta dihentikan oleh mereka KPAI dan kroni-kroninya. Aneh dan tidak masuk akal sehat kita semua.
Saya harap, semoga PB Djarum dan Djarum Foundation tidak marah, kecewa, dan menghentikan program beasiswa bulutangkisnya dan memberikan pelayanan pelatihan dengan fasilitas nomor wahid milik mereka. Kalau ini terjadi, dan pemerintah lewat instansi berwenang masih begini-begini saja dalam program regenerasi atlet bulutangkis, tunggu saja kehancuran prestasi bulutangkis negeri ini. Seperti yang terjadi pada cabang olahraga tenis meja dan tenis yang dahulu disponsori pabrikan rokok dalam negeri kemudian kerjasama sponsor itu dihentikan.<\/p>\n\n\n\n
Dan, jika PB Djarum benar-benar menghentikan program beasiswa ini, ada berapa banyak anak yang akan kecewa, tidak bisa melanjutkan impian mereka, karena pintu mendapat beasiswa ditutup rapat-rapat. Semoga PB Djarum tidak begitu, tidak menggubris keanehan KPAI, dan pemerintah bisa cerdas memilah mana usulan yang masuk akal dan usulan gegabah macam yang diusulkan KPAI dan kroni-kroninya.<\/p>\n\n\n\n
Apakah tulisan ini pada akhirnya ada yang mencap terlalu berlebihan, dan terkesan membela Djarum, saya sama sekali tak peduli. Saya tidak percaya keberadaan netralitas di bumi jika itu perkara keberpihakan. Oposisi biner bagi saya berlaku dalam perkara keberpihakan. Kali ini saya berpihak pada PB Djarum karena lewat peran besarnyalah saya dan saya yakin banyak dari Anda yang membaca tulisan ini, bangga akan prestasi bulutangkis Indonesia di kancah dunia. Sangat bangga. Pernah berada pada masa itu dan kini, masa kebanggaan itu perlahan datang lagi.
Keberpihakan saya ini, bukan karena saya seorang perokok, atau bukan karena saya merokok produk Djarum. Karena ini sama sekali tak ada hubungannya dengan rokok apalagi eksploitasi anak oleh pabrikan rokok yang dituduhkan oleh KPAI dan kroni-kroninya terhadap PB Djarum. Saya lupa kapan mulai merokok dan menggemari produk rokok kretek. Tapi seingat saya, jarang sekali saya mengisap produk Djarum kecuali Djarum Coklat, dan sesekali Djarum 76. Tapi kalau produk PB Djarum, semuanya saya gemari, yang paling saya gemari, tentu saja Liem Swie King, meskipun saya tidak pernah melihat langsung Ia bermain bulu tangkis. Karena sekali lagi, produk rokok Djarum dengan PB Djarum itu berbeda, jadi, jangan dicampuradukkan tanpa memahami peristiwa.<\/p>\n","post_title":"PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pb-djarum-prestasi-bulutangkis-nasional-dan-kegagalan-kpai-memahami-peristiwa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-13 11:25:37","post_modified_gmt":"2019-08-13 04:25:37","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5953","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\nKampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5967,"post_author":"883","post_date":"2019-08-17 06:43:58","post_date_gmt":"2019-08-16 23:43:58","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n